We never get “One”

Entah dari mana asalnya stigma ini, matematika menjadi “momok”. Secara pribadi saya tidak pernah merasakannya. Sudah banyak pula energy dikerahkan untuk menghapus stigma itu, sudah banyak metode, pendekatan dan sebagainya. Namun tulisan ini bukan untuk membahas itu, bukan membantah juga bukan membenarkan. Akhir – akhir ini saya merasakan melalui matematika saya agak bisa “memahami” SatuNyaTuhan…. “agak” karena banyak yang menyadari bahwa relalitasNya tidak pernah tersentuh. Apa yang saya dapatkan dari metematika dalam membantu pemahaman tentang Tuhan yang satu adalah sebagai berikut.
Pertama, metematika merupakan ilmu tentang tata cara penyederhanaan kuantitas atau kualitas alam yang tidak sederhana ini. Matematika menyederhanakan alam menjadi symbol, himpunan, bilangan, angka. Symbol memang tidak pernah mendekati realitas. Misalnya “satu tempe” kemudian ditulis “1 tempe”, simbol “1” tidak akan pernah mewakili realitas “tempe” yang diwakili tersebut. Dengan pemahaman ini, saya terusik ketika banyak orang yang menyatakan bahwa Tuhan itu satu. Saya menjadi sulit menerima pemahaman itu, apalagi kalau dihubungkan dengan matematik yang sangat terbatas. Jangankan Tuhan, realitas alam saja agak sulit diwaliki dengan angka – angka, matematika hanya berusaha meng-kuantisasi-nya agar bisa dilakukan perhitungan. Yang sebenar – benarnya tempe, sulit dituliskan dalam angka, agar tidak ribet tulis saja 1 tempe. Sebenarnya, kita tidak bisa memahami dengan tepat “1” tempe. Itu baru realitas alam, apalagi Tuhan, satu apapun tidak bisa disamakan dengan SatuNya.
Kedua, matematika berusaha “merumuskan” tingkah, pola, jalannya, aturan alam yang sekali lagi tidak sederhana dan sepertinya tidak teratur, atau kita belum tahu aturannya. Contohnya pola yang sederhana (semoga…), kalau 1 tempe ditaruh di piring, kemudian ada 1 tempe lain yang dimasukkan ke piring yang sama, kita kemudian menyebut pola itu sebagai tambah, disimbolkan +. Secara matematik ditulis 1 tempe + 1 tempe = 2 tempe. Anak – anak diajari pola dasar umumnya 1 + 1 = 2. Kalau mau jujur, atau merenung sedikit, 1 tempe + 1 tempe belum tentu 2 tempe, ada banyak kerumitan, apakah 1 tempe pertama sama dengan 1 tempe yang ditambahkan kemudian? Sehingga kemudian hasilnya tidak benar – benar 2 tempe…. Matematika numerik menulisnya 1 + 1 = 2 ± e. e, error, simpangan atau selisih bukan salah, artinya bisa kurang 2 bisa lebih 2, karena 1 yang dijumlahkan juga belum tentu 1. Saya orang NU, penyikut Asyarih bilangnya insyaAllah 2… Catatan : jangan ajarkan matematika ini kepada anak SD :D, kasian gurunya ….
Matematika numerik dipakai di semua perhitungan komputasi. Matematika ini tidak akan mengatakan jawaban yang pasti benar, semua jawaban dikatakan pendekatan atau mendekati. Ada seorang komedian yang entah sadar atau tidak mengatakan, 5 x 5 = 20, kemudian ia berkilah kepada gurunya agar bersabar karena lama – lama akan menjadi 25 …. Itu sebenarnya metode yang dijalankan oleh matematika numerik, oleh semua perhitungan komputer, perhitungan yang dilakukan secara berulang – ulang untuk mendekati kebenaran. Walaupun tidak pernah sampai. Matematika numerik tidak menghitung benarnya, yang dihitung besar selisihnya. Jadi walaupun kita bisa mengatakan Tuhan itu satu, tetapi SatuNya hanya sebatas usaha berulang – ulang pemahaman kita, mungkin tidak pernah sampai ke Satu.
Ketiga, ilmu probabilitas, teori untuk menghitung kemungkinan. Dalam probabilitas, akhirnya saya menyadari bahwa teori inilah yang lebih tepat untuk menggambarkan alam melalui matematik. Teori yang “rendah hati”, karena hasil akhirnya tidak berani mangatakan pasti. “Pasti” dalam probabilitas artinya “1”, sedangkan perhitungan probabilistik tidak pernah sama dengan atau mencapai satu, selalu dibawahnya atau bahkan “0” yang artinya tidak terjadi. Pada teori ini matematika bisa diberi nama lain, bukan ilmu pasti, tetapi ilmu untuk menghitung ketidakpastian, uncertainity. Dari sudut pandang manusia, dunia ini penuh ketidakpastian, bukan kepastian. Hasil perhitungan yang paling canggih pun pada akhirnya adalah kemungkinan yang tidak pernah pasti, karena hasilnya dibawah 1. “1” benar – benar hanya milikNya, yang pasti pasti, yang benar benar benar… kita tidak pernah mencapainya, we never get “One”.
Setiyo Budi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s