Filosofi Sunan Drajat dalam Pendidikan

Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Beliau adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang. Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, kabupaten Lamongan.

Beliau sebagai wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperha­tikan nasib kaum fakir miskin. Ia terle­bih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.

Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam tujuh sap tangga dari tataran komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :

  1. Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain)
  2. Jroning suko kudu eling lan waspodo (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
  3. Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita – cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
  4. Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
  5. Heneng – Hening – Henung (dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita – cita luhur).
  6. Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)
  7. Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya­rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)

Bagi penulis, 7 tahapan yang dikonsep  mbah sunan Drajat tersebut bisa kita terapkan dalam pembelajaran / pendidikan / sekolah. Kalau direnungi dan dihayati tujuan akhir pendidikan adalah seperti yang tertulis dalam sap / tahap ke 7, membentuk manusia yang cerdas / kompeten (teken atau tongkat, menggambarkan teknologi  / ilmu / pengetahuan untuk menuntun manusia yang “buta”), peduli pada orang lain / menyejahterakan (memberi makanan / mangan), ber-etika, beradab (busono, pakaian simbol kesusilaan, ajining raga) dan perlindungan / keselamatan (ngiyup, berteduh).

Pada tahap pertama / sap 1, Sunan Drajat telah merumuskan model yang simple untuk mencapai tujuan yang besar. Dimulai dari membuat orang lain “senang”. Pendidikan, sekolah tidak disampaikan dengan wajah yang seram, membuat orang takut, tapi dengan kabar gembira, dengan harapan – harapan yang menginspirasi anak – anak. Sekolah dikonsep, dikelola dengan ramah.

Filosofi yang tertulis pada sap dua sampai dengan enam dapat dijadikan pedoman dalam proses pendidikan. Ketika belajar, kita tidak disarankan bersenang – senang yang berlebihan. Kalau pun kita mendapat atau merasakan sesuatu yang sangat menyenangkan, kita sebagai pelajar / pembelajar harus tetap ingat (iling) kepada Yang maha kuasa dan waspada, berhati – hati, tidak terlalu berlarut larut dalam kegembiraan.

Selanjutnya, seorang pelajar harus kuat tekadnya agar tercapai apa yang dicita – citakannya. Kuatnya tekad ini juga akan mampu menahan godaan, pringga baya, sepanjang proses pembelajaran.

Di sap ke empat, kita dianjurkan untuk tidak memperturutkan hawa nafsu. ini tentunya sangat tepat dilakukan oleh siapa saja yang sedang menuntut ilmu, yg sedang bekajar.  Mbah sunan Drajat menggunakan kata “meper” untuk mengalahkan hawa nafsu yang jalan masuknya adalah panca indra. “Meper” dalam bahasa jawa artinya menumpulkan, menjadikan pisau yang semula tajam menjadi rapuh, bukan mengalahkan atau menghilangkan.

Pada sap ke lima kita dibimbing agar mempunyai hati yang tenang apabila sedang dalam kegiatan belajar. Filsafat Heneng, Hening, Henung, adalah filsafat tentang pengendalian diri. Heneng, artinya adalah diam, sabar, pasrah serta tawakal dalam menerima kehendak Allah. Hening, kondisi berdoa (mengheningkan cipta) dalam pengertian sederhananya adalah mensucikan hati serta menjernihkan pikiran dengan bertafakur dan berdzikir kepada Allah. Henung, merenung, mengandung makna bahwasanya kita mesti menggunakan akal kita, memanfaatkan pikiran kita untuk selalu merenung, berfikir , menganalisa serta mentafakuri keindahan-keindahan karya cipta Allah.

Sedangkan pada sap ke enam kita diingatkan betapa pentingnya menjalankan ibadah (salat, dan ibadah lainnya) selama perjalanan mencari ilmu atau belajar.

 

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Drajat

http://www.kompasiana.com/rudisetiawan1976/filsafat-heneng-hening-huning-dan-hanung_54ffac38a33311426350f831

 

Advertisements

Rethingking Hanacaraka

Sumber : kanktono.blogspot.co.id/2009/08/gothak-gathik-gathuk-huruf-jawa.html

​Sebuah ide cemerlang dalam penyusunan huruf jawa dikemukakan oleh Prof.Dr. Damardjati Supadjar, beliau menyusun susunan huruf2 yang biasanya seperti pada tulisan diatas menjadi:

ka ma ba tha ra

ga da sa nya ta

na la pa dha nga

ja wa ha ca ya

saya kira susunan huruf2 jawa diatas sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia pada umunya dan jawa pada khususnya, makna perhuruf tetap sama namun makna perbaris berbeda, berikut adalah makna perbaris susunan diatas

ka ma ba tha ra mempunyai makna filosofi hendaknya wiji/biji/sperma itu jangan di sia siakan dalam arti banyak sekali tempat2 prostitusi di negeri kita tercinta ini yang semuanya menawarkan untuk mengecer-ecer wiji secara berbayar, semuanya itu hendaknya segera diakhiri mengingat satu tetes wiji itu sama nilainya dengan 100 tetes darah bagi yang percaya, hendaknya pula energi yg ada disekitar pusar kita di purba diri untuk di alirkan ke atas ubun2 atau dari cakra pusar ke cakra ubun2 bukannya malah dialirkan kebawah melalui kemaluan atau mengecer-ecer wiji. didalam kearifan jawa ada istilah titis, tetes, tetes, titis itu maksudnya tepat sasaran, tetes itu maksudnya menetes, sedangkan tetes yg kedua maksudnya tetas, apabila digabungkan ketiganya bisa ditarik kesimpulan perlu untuk menitis memusatkan pikiran dan hati supaya tetes yg akan ditetas itu menjadi pribadi pilihan, maka tidak heran apabila ahli meditasi itu apabila berhubungan badan jarang sekali ejakulasi karena energi yg biasanya disalurkan kebawah menjadi disalurkan keatas, para ahli meditasi itu hanya akan tetes apabila pada waktu akan membuahi, itupun cuma sedikit atau seperlunya tapi mempunyai kualitas yang unggul. Disisi lain titis tetes tetes itu dimaksudkan menitiskan pada bathin kita untuk melahirkan diri yg berkesadaran tinggi atau berkesadaran rohani, dengan kata lain diri kita yg biasanya berkesadaran jasmani yg penuh ketergantungan duniawi bertransformasi ke berkesadaran rohani yg bebas dari polusi dunia, inilah makna hijrah yg sebenarnya.

ga da sa nya ta mempunyai makna gada itu bermakna senjata gada, sanyata itu nyata, makna filosofinya adalah apabila kita sudah melakukan titis tetes tetes secara batiniyah maka kita akan mempunyai senjata yg nyata dalam hal utk menghadapi krisis multidimensi yaitu diri yang sudah meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia dan inilah pribadi pilihan

na la pa dha nga mempunyai arti hati yang terang, orang yang sudah sadar rohani itu hatinya terang sebab tiada suatu apapun yg menghalangi hatinya dari pancaran Nur illahi, hati orang yg sudah berkesadaran rohani bebas dari polusi dunia baik berupa ketergantungan materi maupun ego kedirian yang keapian yang suka mengaku-aku sepihak dalam kata lain ego yg sombong tidak mau sujud kepadaNya.

ja wa ha ca ya mempunyai arti apabila hati kita sudah terang benderang karena tiada satupun yg mengotorinya maka “hujan’ cahaya maha cahaya Nur illahi akan terjadi dan menyinari setiap pribadi pilihan tsb untuk dipantulkan ke pribadi yang lain dan juga makhluk disekitarnya dalam bentuk kerja nyata secara ikhlas karena Tuhan bukan karena yg lainnya, perlu diketahui nur Tuhan itu indah tanpa batas, hanya ego kita yg menghalanginya, apabila tidak ada lagi ego di diri kita maka tidak ada lagi yg menghalanginya.

Sampai saat ini saya percaya bahwa pribadi pilihan yg unggul atau satrio piningit itu bukan dalam arti perorangan, tapi dalam arti kelompok orang2 yg sudah berkesadaran rohani, jadi tidak ada alasan bagi orang yg ngaku2 satrio piningit atau Imam mahdi, ratu adil, dsb, karena pengakuan sepihak itu salah satu dari ego keapian yg sombong, lalu siapa satrio piningit sebenarnya? kita lah satrio piningit itu, dalam arti diri kita yang berkesadaran rohani yg kita kurung dengan ego keapian dan ketergantungan materi harus kita bebaskan untuk menjadi pemimpin di diri kita, soal siapa yg muncul di permukaan hanyalah simbol belaka tapi pada hakekatnya ya kita ini.

Afi Nihaya Faradisa

8 Desember pukul 17:47 ·
Aku pernah mematikan total hapeku selama 10 hari. Selama itu, aku tidak berhubungan dengan dunia luar sama sekali. Hanya dari situ kau bisa mengamati apa yang gadget dan koneksi internet telah renggut selama ini.
Katakanlah aku terjebak dalam sudut pandang yang menggelikan. Katakanlah aku salah menyikapi kemajuan, tapi hal-hal ini yang telah kupelajari dalam 10 hari. Sudahkah kau mencoba sendiri sebelum menjustifikasi?
.
Melalui layar 4 inchi ini, aku memang melihat dunia tanpa batas yurisdiksi.
Namun, kata orang bijak, “You are what you eat”. Belakangan aku tahu bahwa hal itu tidak hanya berlaku untuk makanan perut, tapi juga “makanan pikiran”. Apa yang telah kita masukkan dalam pikiran, jiwa, dan hati kita selama ini menentukan seperti apa diri kita. Lalu pernahkah bertanya, yang aku telan selama ini lebih banyak racun atau gizinya? Pantas kalau diri kita masih gini-gini saja. Ternyata ini sebabnya.
.
Perhatikan, kondisi “sumber makanan pikiran” kita semakin tercemari.
Aku lelah menjelaskan pada satu persatu orang tentang negatifnya menyebarkan hoax dan kebohongan.
Kita juga tidak pernah kehabisan alasan untuk saling membenci. Apa-apa dijadikan ‘amunisi’.
Sama-sama manusia, kalau beda negara rusuh. Sama-sama Indonesia, kalau beda agama rusuh. Sama agamanya, beda pandangan juga rusuh. Terus gimana nih maunya?
Padahal, kalau bukan Tuhan, lalu siapa lagi yang menciptakan SEMUA perbedaan ini? Kalau Dia mau, Dia bisa saja menjadikan semua manusia ‘serupa’ dalam segala hal. Lalu, kenapa kita lancang menentang Tuhan dengan meludahi perbedaan?
Aku sendiri tidak pernah mengunfriend yang beda pandangan, aku dan kamu bisa bersahabat walaupun kita tidak sepakat. Pernah lihat orang yang penuh permusuhan hidupnya tenang? Bagaimana kita berharap ada bunga yang tumbuh di atas kawah berapi? Yang dirahmati Tuhan adalah hubungan, bukan permusuhan.
Unity in diversity.
.
Yang aku heran, apa-apa dijadikan perdebatan. Seperti ritual medsos tahunan, mulai dari ucapan natal, perayaan valentine, bahkan juga jumlah peserta unjuk rasa!
Diri ini merasa lebih baik karena pihak lain terlihat lebih buruk. Kita merasa senang atas ketidakbaikan orang. Tuhan mana yang mendukung karakter seperti itu?
Padahal, this too shall pass. Semua hal pasti akan berlalu sendiri silih berganti. 10 tahun lagi, apakah yang kita pertengkarkan ini lebih berharga daripada hubungan baik kita?
.
Padahal, kata “musuh” hanyalah ilusi, sebuah sekat yang kita buat sendiri. Tuhan tidak mengatakan bahwa Ia hanya dekat dengan pembuluh nadi orang beragama X dan bersuku Y, Tuhan dekat dengan pembuluh nadi semua orang. Sudah lupa, ya?
.
Yang aneh adalah, jika tidak pro pokoknya salah! Kontra salah, netral pun juga disalahkan. Tidak ada hal lain yang ditunjukkan kecuali sifat kekanak-kanakan. Boikot terhadap produk perusahaan raksasa tidak akan berpengaruh sedikitpun pada owner-owner atas yang sudah kaya raya, yang kalian bahayakan adalah penjual-penjual kecil yang masih bingung cari makan tiap harinya, yang mereka bahkan tidak tahu apa-apa tentang kebijakan perusahaan.
.
Ada sebuah peribahasa Cina yang layak untuk kita renungkan. “Menyimpan dendam seperti meminum racun tapi berharap orang lain yang mati.”
Buddha pun berkata, “Anda tidak dihukum KARENA kemarahan Anda, Anda dihukum OLEH kemarahan Anda.”
.
Jika tetap tidak bisa mengendalikan kemarahan? DIAM!
Setidaknya kemarahan kita tidak akan menjadi sebab kemarahan orang lain.
“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501)
.
Dan aku tahu,
Memang ada saatnya memproteksi diri. Ada saatnya mempertahankan kenyamanan pribadi.
Tapi bagiku, ada juga saatnya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Karena itu, aku tidak akan pergi dari sini 🙂
– Afi N.F / SMA Negeri 1 Gambiran Banyuwangi

Sekolah ala rumah sakit, spp ala bpjs

Ada pepatah yang mengatakan “pengalaman adalah guru yang baik”, minimal itu yang bisa saya rasakan. Orang tua saya saya sakit, dan harus dirawat dirumah sakit dalam waktu yang agak lama, serta berulang perawatannya. Saya patut bersyukur ada program bpjs kesehatan dan dokter di RSSA Malang yang baik yang menyarankan dan meyakinkan agar menggunakan layanan tersebut. Namun tulisan ini bukan membahas tentang tema tersebut, namun analogi rumah sakit dengan sekolah dan pembayaran biaya pendidikan, biasa disebut spp atau banyak sebutan lain, dengan model bpjs kesehatan dari sudut pandang pengalaman saya pribadi.
Orang yang sedang sakit saya analogikan sebagai orang yang belum menerima pendidikan, sebenarnya ada banyak potensi yang bisa dilakukan tetapi dia tidak bisa melakukannya, karena sakit itu. Dalam khasus seorang anak yang sedang belajar, ia belum sadar dengan kemampuannya dan tugas para guru untuk menyadarkan, mengasah, membangkitkan, menunjukkan kemampuan anak tersebut. Sama halnya dengan seorang dokter yang berusaha mengobati si pasien agar sehat, agar semua potensi yang semula bisa dilakukan kembali bisa dilakukan.
Kalau di rumah sakit, ditangan para dokter ahli, waktu sembuh sangat dinamik, variatif, banyak faktor yang mempengarhui misalnya jenis sakit dan penyakit, kondisi fisik-psikologis pasien, pengalaman dokter, ketersediaan alat, dan sebagainya. Bisa jadi sakitnya sama, dokter dan sebagainya sama, namun waktu sembuh antara dua pasien bisa berbeda. Yang satu bisa lebih dulu sehat, yang lain belum. Demikian pula di sekolah, bermacam – macam kondisi anak akan berpengaruh kepada kemampuannya untuk belajar dan menguasai suatu kemampuan / kompetensi. Sayang nya penulis belum menemui model sekolah yang seperti rumah sakit, yang siswanya bisa dinyatakan lulus / mampu tanpa harus menunggu 3 tahun. Bisa lulus kapan saya setelah guru “dokter ahli” menyatakannya kompetan “sehat”.
Kedua tentang cara pembayarannya. Di rumah sakit yang menerima pembayaran melalui bpjs kesehatan, rumah sakit menerima biaya pengobatan dari pemerintah, tidak peduli dari mana dan bagaimana si pasien membayar ansuran bpjs nya, rumah sakit tidak membeda bedakan pelayanan. Kalaupun ada perbedaan, itu hanya perbedaan ruang inap saja, bukan perbedaan treatment dan pengobatan. Dokter dan RS tetap berprioritas kepada jenis sakit dan penyakit pasien, tidak peduli siapa si pasien itu dan bayar bpjs nya bagaimana (mandiri / kis). Bpjs adalah model gotong royong, dimana orang yang sehat membiayai orang yang sedang sakit dan / atau tidak mampu membiayai pengobatannya. Alangkah nyamannya model pembayaran spp/iuran/biaya bla bla … di sekolah jika menggunakan model ini. Pembayaran akan bersifat flat, semua orang (dengan pengecualian yang benar benar tidak mampu) membayar biaya pendidikan dengan kelas tertentu (kalo di bpjs kesehatan mandiri ada 3 kelas), berdasarkan kemampuan ekonominya. Kemudian sekolah mengajukan biaya program pendidikannya untuk dibiayai kepada pemerintah bukan langsung kepada wali murid. Tagian biaya pendidikan kepada pemerintah bisa berdasarkan kepada keadaan anak didik, capaian yang ingin dituju, kemampuan lulusan dsb. Logikannya, jika input anak didik membutuhkan banyak treatment sebelum dinyatakan lulus / kompeten, maka sekolah akan membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada jika menerima input siswa yang lebih baik, dengan demikian sekolah akan memerlukan biaya lebih. Kalau model bpjs kesehatan diterapkan, biaya ini tidak ditanggung oleh wali murid yang bersangkutan, tapi beberapa wali murid yang putra nya lebih cepat belajar dan cepat lulus. Bukankah idealnya suatu kemampuan dapat dipelajari dan dikuasai oleh semua anak, hanya sering kali berbeda waktu penguasaannya, seperti halnya sakit yang relatif waktu sembuhnya. Semoga ……

We never get “One”

Entah dari mana asalnya stigma ini, matematika menjadi “momok”. Secara pribadi saya tidak pernah merasakannya. Sudah banyak pula energy dikerahkan untuk menghapus stigma itu, sudah banyak metode, pendekatan dan sebagainya. Namun tulisan ini bukan untuk membahas itu, bukan membantah juga bukan membenarkan. Akhir – akhir ini saya merasakan melalui matematika saya agak bisa “memahami” SatuNyaTuhan…. “agak” karena banyak yang menyadari bahwa relalitasNya tidak pernah tersentuh. Apa yang saya dapatkan dari metematika dalam membantu pemahaman tentang Tuhan yang satu adalah sebagai berikut.
Pertama, metematika merupakan ilmu tentang tata cara penyederhanaan kuantitas atau kualitas alam yang tidak sederhana ini. Matematika menyederhanakan alam menjadi symbol, himpunan, bilangan, angka. Symbol memang tidak pernah mendekati realitas. Misalnya “satu tempe” kemudian ditulis “1 tempe”, simbol “1” tidak akan pernah mewakili realitas “tempe” yang diwakili tersebut. Dengan pemahaman ini, saya terusik ketika banyak orang yang menyatakan bahwa Tuhan itu satu. Saya menjadi sulit menerima pemahaman itu, apalagi kalau dihubungkan dengan matematik yang sangat terbatas. Jangankan Tuhan, realitas alam saja agak sulit diwaliki dengan angka – angka, matematika hanya berusaha meng-kuantisasi-nya agar bisa dilakukan perhitungan. Yang sebenar – benarnya tempe, sulit dituliskan dalam angka, agar tidak ribet tulis saja 1 tempe. Sebenarnya, kita tidak bisa memahami dengan tepat “1” tempe. Itu baru realitas alam, apalagi Tuhan, satu apapun tidak bisa disamakan dengan SatuNya.
Kedua, matematika berusaha “merumuskan” tingkah, pola, jalannya, aturan alam yang sekali lagi tidak sederhana dan sepertinya tidak teratur, atau kita belum tahu aturannya. Contohnya pola yang sederhana (semoga…), kalau 1 tempe ditaruh di piring, kemudian ada 1 tempe lain yang dimasukkan ke piring yang sama, kita kemudian menyebut pola itu sebagai tambah, disimbolkan +. Secara matematik ditulis 1 tempe + 1 tempe = 2 tempe. Anak – anak diajari pola dasar umumnya 1 + 1 = 2. Kalau mau jujur, atau merenung sedikit, 1 tempe + 1 tempe belum tentu 2 tempe, ada banyak kerumitan, apakah 1 tempe pertama sama dengan 1 tempe yang ditambahkan kemudian? Sehingga kemudian hasilnya tidak benar – benar 2 tempe…. Matematika numerik menulisnya 1 + 1 = 2 ± e. e, error, simpangan atau selisih bukan salah, artinya bisa kurang 2 bisa lebih 2, karena 1 yang dijumlahkan juga belum tentu 1. Saya orang NU, penyikut Asyarih bilangnya insyaAllah 2… Catatan : jangan ajarkan matematika ini kepada anak SD :D, kasian gurunya ….
Matematika numerik dipakai di semua perhitungan komputasi. Matematika ini tidak akan mengatakan jawaban yang pasti benar, semua jawaban dikatakan pendekatan atau mendekati. Ada seorang komedian yang entah sadar atau tidak mengatakan, 5 x 5 = 20, kemudian ia berkilah kepada gurunya agar bersabar karena lama – lama akan menjadi 25 …. Itu sebenarnya metode yang dijalankan oleh matematika numerik, oleh semua perhitungan komputer, perhitungan yang dilakukan secara berulang – ulang untuk mendekati kebenaran. Walaupun tidak pernah sampai. Matematika numerik tidak menghitung benarnya, yang dihitung besar selisihnya. Jadi walaupun kita bisa mengatakan Tuhan itu satu, tetapi SatuNya hanya sebatas usaha berulang – ulang pemahaman kita, mungkin tidak pernah sampai ke Satu.
Ketiga, ilmu probabilitas, teori untuk menghitung kemungkinan. Dalam probabilitas, akhirnya saya menyadari bahwa teori inilah yang lebih tepat untuk menggambarkan alam melalui matematik. Teori yang “rendah hati”, karena hasil akhirnya tidak berani mangatakan pasti. “Pasti” dalam probabilitas artinya “1”, sedangkan perhitungan probabilistik tidak pernah sama dengan atau mencapai satu, selalu dibawahnya atau bahkan “0” yang artinya tidak terjadi. Pada teori ini matematika bisa diberi nama lain, bukan ilmu pasti, tetapi ilmu untuk menghitung ketidakpastian, uncertainity. Dari sudut pandang manusia, dunia ini penuh ketidakpastian, bukan kepastian. Hasil perhitungan yang paling canggih pun pada akhirnya adalah kemungkinan yang tidak pernah pasti, karena hasilnya dibawah 1. “1” benar – benar hanya milikNya, yang pasti pasti, yang benar benar benar… kita tidak pernah mencapainya, we never get “One”.
Setiyo Budi

Start from Simple Thing’s

Dalam suatu ayat Qur’an diceritakan bahwa suatu ketika seorang hamba akan sampai pada pengakuan ” Ya Tuhan kami tidak ada yang Kau ciptakan dengan siasia “. Itu bisa dipahami bahwa sebenarnya kategorisasi yang kita lakukan terhadap banyak hal itu hanya untuk tujuan sementara. Mungkin yang hakiki, ketika manusia sudah sampai pada kesadaran itu, maka tidak adalagi kategori – kategori, tidak ada lagi pembagian kelas, kasta, apapun yang membuat semuanya (khususnya manusia) seolah – olah terpecah – pecah.
Dalam dunia ini banyak hal yang dianggap sederhana dan kecil sehingga jarang, bahkan tidak ada orang yang memperhatikannya. Ada banyak hal yang semula tidak nampak, sangat kecil, yang kemudian mampu mengejutkan banyak orang. Dan biasanya, setelah hal itu “dianggap sudah besar” maka sifat manusia yang lain akan muncul, yaitu klaim, mengatakan itu sebenarnya sudah ada disini dan disana, dan sebagainya. Kemampuan untuk melihat “sesuatu yang kecil” itu bisa kita lakukan jika kita menjauhi sifat sombong. Karena sombong menutup mata kita terhadap sesuatu yang “dianggap kecil”.
Ketika teman kita memulai sesuatu yang “dianggap kecil” tadi, sudah bisa dipastikan akan ada saja orang yang mencibir, ah pekerjaan apa itu… Dan celakanya itu tumbuh subur di masyarakat kita. Kuatnya budaya plagiasi sepertinya juga berawal dari sana, kita cenderung malas memulai dari sesuatu yang kecil dan sederhana. Dalam benak kita selalu saja muncul apa yang besar, apa yang besar, apa yang besar. Kita lebih senang revolusi dari pada evolusi, lebih senang perubahan yang monumental dari pada yang gradual.
Adakah sebenarnya hal “kecil” dan “besar” itu. Dalam setiap ilmu yang kita pelajari, kita akan selalu bertemu bahwa semuanya menempati makom / sunahnya masing – masing. Tidak ada besar dan kecil. Sehingga kita tidak sepantasnya ragu memulai sesuatu yang kita yakini itu akan membawa perubahan, meskipun dianggap kecil. Perubahan minimal pada diri kita sendiri.

Posted in oretoret

Batas dalam dunia yang tanpa batas

Setan terusir dari sorga karena tidak mau balajar. Kesombongan dan ilmu maupun pengetahuan adalah dua hal yang saling bertantangan. Manusia diperintahkan untuk berjalan di muka bumi dengan ketakjuban – ketakjuban bukan dengan kesombongan. Sifat sombong itu bisa menjadi batas bagi kita untuk dapat mereguk nikmatnya menyelami samudera pengatahuan Tuhan yang kita semua tidak tahu batasnya. Kesombongan pula yang menjadi penghalang bagi hati dan pikiran manusia untuk bisa menyentuh ujung – ujung keagungan-Nya.
Hari ini aku belajar, bahwa apa yang telah lama dipelajarai manusia dan manghasilkan puluhan (mungkin ratusan ) profesor dengan berbagai bidang belum lah seujung kuku dari fenomena “kecil” yaitu otak manusia. Dari sisi biologis saja belum apalagi aspek – aspek yang lain. Otak manusia yang (katanya) terdiri dari 10 pangkat sebelar neuron dan saling terhubung dengan 10 pangkat 4 kelompok lainnya, masih mampu dipelajari oleh ilmu pengetahuan pada fase yang sangat dasar (tidak sampai ratusan).
So. apa yang mau dan layak kita sombongkan ….

created by : s’tyo
sumber : inasandya.wordpress.com